“Dari antara mereka seharusnya kelak ada yang akan menjadi seorang ilmuwan, penari balet, pelukis, guru, pendongeng dan peraih Nobel… Tapi itu tidak akan pernah terjadi, karena Nazi telah merenggut nyawa mereka”, demikian komentar Elie Wiesel (mantan penghuni kamp konsentrasi Nazi) dalam satu wawancara televisi mengenai korban kanak-kanak yang ada di kamp tersebut.
Saya tak bermaksud menyamakan perbuatan Israel dengan apa yang dilakukan Nazi. Tapi sangat adil, jika mengatakan hal yang sama, mengenai korban kanak-kanak yang terbunuh oleh serbuan pasukan Israel ke Jalur Gaza.
“Seharusnya dari antara mereka ada yang akan menjadi seorang negarawan.,”
“Seharusnya dari antara mereka ada yang akan menjadi seorang perancang mode.,”
“… menjadi seorang model yang cantik.,”
“… menjadi seorang ekonom.,”
“… menjadi seorang ..,”
Tapi itu tak akan pernah terjadi!
Karena masa depan mereka telah direnggut paksa!
Seharusnya mereka masih bermain petak umpet hari ini.,
ketawa ngakak dan berlarian kesana-kemari.,
atau mungkin juga berebut menendang bola.,
tapi itu tinggal kenangan oleh maut yang datang tiba-tiba.
“Bagaimana menghibur seorang kanak-kanak yang kehilangan sahabatnya? Sang sahabat telah pergi ke alam baka dan tak akan pernah kembali! Hanya kemuraman dan kesedihan yang tersisa.”
***
Beberapa orang berkomentar :
“Kanak-kanak banyak yang menjadi korban karena para
pejuang Palestina memakai mereka sebagai tameng hidup!”
Beberapa artikel/photo/klip video tersebar di inet mendukung komentar tersebut.
TAPI., semua itu tidak lantas menjadi suatu pembenaran bagi
pasukan Israel untuk boleh membunuhi kanak-kanak, bukan?
Harap diketahui : Bahwa sebelum operasi militer dijalankan maka operasi intelijen harus digelar untuk meminimalkan korban. Lagi pula operasi militer dijaman modern bertujuan melumpuhkan perlawanan musuh bukan menjatuhkan korban sebanyak-banyaknya.
Maka, jika banyak kanak-kanak menjadi korban, itu artinya operasi intelijen Israel tidak pernah dilakukan, bukan? Jika ternyata operasi intelijen Israel tidak pernah dilakukan, maka konsekuensinya, pasukan Israel yang terjun ke palagan hanya ditugasi membunuh orang sebanyak-banyaknya!
Menjadikan kanak-kanak sebagai temang hidup maupun perbuatan
membunuh orang sebanyak-banyaknya adalah sama jahatnya.
***
Saya tak ingin menghukum Israel, Hamas, Fatah, dll, kiranya Tuhan yang berurusan dengan mereka. Hanya sekedar mengingatkan bahwa kekejaman/kekerasan, tinggal menunggu waktu saja, hanya akan melahirkan kekejaman/kekerasan baru.
Dan tiap kali suatu kekejaman/kekerasan baru muncul, yang diakibatkan oleh perbuatan kejam/keras sebelumnya, maka sesungguhnya kita semakin dekat kepada kehancuran bersama.
Itukah pilihan kita?
***
Saya baru saja tiba di rumah ketika putri kami yang pertama, Joanna 2thn 5bln, menyambut dengan berteriak gembira dan tertawa lebar. Saya menggendong, memeluknya erat dan menciumnya; Joanna balas mencium pipi saya. Letih di badan seketika sirna!
“Tuhan., semoga kekerasan yang sama tak menimpa Joanna …”
